Melihat penonton
yang hadir malam itu, Rahman Sabur, sang sutradara ‘Segera’, sangat terkejut.
Rahman Sabur tidak menyangka bahwa penonton teater di Pekanbaru sangat
antusias. “Saya benar-benar tidak menyangka bahwa di Pekanbaru penonton teater sudah
seperti ini. Saya benar-benar puas,” ujar Rahman Sabur setelah pementasannya.
Memang
belakangan ini, pementasan teater di Pekanbaru memuaskan dari segi kuantatif. Setiap
pergelaran teater yang diadakan baik itu di Anjung Seni Idrus Tintin, maupun di
Taman Budaya Riau, penonton selalu ramai. Banyaknya penonton teater sudah berlangsung
3 tahun belakangan ini. Fenomena ini disebabkan banyaknya pekerja teater di
Pekanbaru berprofesi sebagai guru. Mereka-mereka inilah yang mengerah masa dari
sekolah-sekolah dimana mereka mengajar.
Bukan sesuatu
yang salah menyuruh siswa-siswa untuk mengapresiasi pementasan teater, malahan
langkah ini merupakan hal positif bagi generasi muda. Dalam pementasan teater,
mereka secara tidak langsung diajar untuk menafsirkan peristiwa kehidupan di
atas panggung, sehingga mendapat bekal untuk lebih arif dan bijaksana
menyingkapi kehidupan ini. Bagaimanapun pementasan teater merupakan peristiwa
kehidupan yang berangkat dari kenyataan hidup manusia.
Belakangan ini,
walaupun penonton teater di Pekanbaru didominasi pelajar dan mahasiswa, namun
apresiasi dan penghargaan mereka terhadap pementasan teater sudah terbangun.
Hal ini terbukti pada pementasan Teater Payung Hitam yang disutrdarai Rahman
Sabur, penonton leih kurang 550 orang tersebut, dengan seksama menyaksikan
pergelaran. Apabila ada sedikit saja suara dari penonton, maka secara spontan
ada yang menegur dengan sahutan ‘sssssttttt’. “Saya sudah beberapa kali nonton
pementasan teater, terasa asik dan memuaskan hati. Dan saya terasa terganggu
kalau ada yang ribut-ribut,” ujar Budi salah seorang siswa SMA di Pekabaru.
Pementasan
teater dan penonton merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Pementasa
teater diciptakan untuk disaksikan penonton, dan penonton dipersilakan
memunggah makna dari pementasan tersebut. Penonton teater di Kota Pekanbaru,
sudah menganggap pementasan teater merupakan tontonan yang menghibur hati dan
juga dapat dijadikan pelajaran.
Mudah-mudahan
pemetasan teater di Pekanbaru tidak mati suri lagi seperti masa lalu disebabkan
penonton tidak ada. Namun demikian pekerja teater harus bekerja ekstra lagi
sehingga pementasan teater yang dipegelarkan tidak asal-asalan. Penonton teater
yang menyaksikan pementasan teater itu merogoh kocek 20-25 ribu. Apabila
pementasan teater tidak menarik, maka siap-siaplah pementasan teater di
Pekanbaru kembali tidak ada penonton.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar