Selasa, 18 Juni 2013

Penonton dan Pementasan Teater di Pekanbaru


         
Pementasan Teater Payung Hitam yang berjudul Segera dan disutrdarai oleh teaterawan terkemukan Indonesia, Rahman Sabur, seakan pempertegaskan bahwa di Riau, khususnya Kota Pekanbaru, penonton teater sudah terbentuk. Malam pementasan teater ‘Segera’ tidak kurang 550-an penonton hadir. Kebenaran ini dapat dilihat dari penuhnya kursi yang ada di Anjung Seni Idrus Tintin. Jumlah kursi yang ada di Anjung Seni Idrus Tintin itu berjumlah 600 kursi dan pada malam itu, 18 Juni 2013, hanya beberapa saja yang tidak terisi.
Melihat penonton yang hadir malam itu, Rahman Sabur, sang sutradara ‘Segera’, sangat terkejut. Rahman Sabur tidak menyangka bahwa penonton teater di Pekanbaru sangat antusias. “Saya benar-benar tidak menyangka bahwa di Pekanbaru penonton teater sudah seperti ini. Saya benar-benar puas,” ujar Rahman Sabur setelah pementasannya.
Memang belakangan ini, pementasan teater di Pekanbaru memuaskan dari segi kuantatif. Setiap pergelaran teater yang diadakan baik itu di Anjung Seni Idrus Tintin, maupun di Taman Budaya Riau, penonton selalu ramai. Banyaknya penonton teater sudah berlangsung 3 tahun belakangan ini. Fenomena ini disebabkan banyaknya pekerja teater di Pekanbaru berprofesi sebagai guru. Mereka-mereka inilah yang mengerah masa dari sekolah-sekolah dimana mereka mengajar.
Bukan sesuatu yang salah menyuruh siswa-siswa untuk mengapresiasi pementasan teater, malahan langkah ini merupakan hal positif bagi generasi muda. Dalam pementasan teater, mereka secara tidak langsung diajar untuk menafsirkan peristiwa kehidupan di atas panggung, sehingga mendapat bekal untuk lebih arif dan bijaksana menyingkapi kehidupan ini. Bagaimanapun pementasan teater merupakan peristiwa kehidupan yang berangkat dari kenyataan hidup manusia.
Belakangan ini, walaupun penonton teater di Pekanbaru didominasi pelajar dan mahasiswa, namun apresiasi dan penghargaan mereka terhadap pementasan teater sudah terbangun. Hal ini terbukti pada pementasan Teater Payung Hitam yang disutrdarai Rahman Sabur, penonton leih kurang 550 orang tersebut, dengan seksama menyaksikan pergelaran. Apabila ada sedikit saja suara dari penonton, maka secara spontan ada yang menegur dengan sahutan ‘sssssttttt’. “Saya sudah beberapa kali nonton pementasan teater, terasa asik dan memuaskan hati. Dan saya terasa terganggu kalau ada yang ribut-ribut,” ujar Budi salah seorang siswa SMA di Pekabaru.
Pementasan teater dan penonton merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Pementasa teater diciptakan untuk disaksikan penonton, dan penonton dipersilakan memunggah makna dari pementasan tersebut. Penonton teater di Kota Pekanbaru, sudah menganggap pementasan teater merupakan tontonan yang menghibur hati dan juga dapat dijadikan pelajaran.
Mudah-mudahan pemetasan teater di Pekanbaru tidak mati suri lagi seperti masa lalu disebabkan penonton tidak ada. Namun demikian pekerja teater harus bekerja ekstra lagi sehingga pementasan teater yang dipegelarkan tidak asal-asalan. Penonton teater yang menyaksikan pementasan teater itu merogoh kocek 20-25 ribu. Apabila pementasan teater tidak menarik, maka siap-siaplah pementasan teater di Pekanbaru kembali tidak ada penonton.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar